Jalan Pikir Ahli Filsafat

Bagaimana para filsuf memikirkan sebuah peristiwa?

Para filsuf memikirkannya dengan lebih mendalam.
Para filsuf memikirkannya a posteriori.
Para filsuf memikirkannya secara konsisten.
Para filsuf memikirkannya secara konseptual.
Para filsuf memikirkannya demi nalar murni.
Para filsuf memikirkannya dengan pikiran mereka sendiri.
Para filsuf memikirkan tentang bagaimana memikirkannya.
Para filsuf terheran-heran sendiri kenapa juga mereka memikirkannya.

Alfred North Whitehead pun mengatakan bahwa “cara paling tepat untuk mencirikan tradisi pemikiran Barat adalah tradisi tersebut berisi rangkaian catatan kaki pemikiran Platōn.” Benarkah demikian?Apakah filsafat Barat modern mengajarkan latihan mati sehingga sang pembelajarnya akan menghadapi kematian tanpa sedikit pun rasa takut?

Apakah filsafat Barat modern menjadikan sang filsuf teladan sebab hidupnya adalah ajarannya? Bagaimana dengan pemisahan ranah privat dan publik, yang merupakan temuan modern, sehingga para filsuf bisa menjalani “keliaran yang gila” di wilayah privat, dan hanya menawarkan pemikiran ke wilayah publik? Mengutak-atik kelemahan sisi privat sang filsuf bisa dituding “argumentum ad hominem” (menyerang secara langsung dan mendiskreditkan sang pemikir sebab malah menunjukkan kelemahan pribadinya)….

Apakah filsafat Barat modern mengajarkan pengendalian hasrat? Mengajarkan hidup yang berkeutamaan dengan menjadi diri sendiri? Bukankah “diri sejati” itu hanyalah “fiksi” bagi filsafat modern? Ini setidaknya menjadi awalan pembahasan—yang nantinya berujung pada konsumerisme—ihwal banyaknya perubahan yang mempengaruhi kita. Dimulai dari filsafat secara umum dulu.

Pada saat mengucapkan “Astaghfirullah, Astaghfirullah”, namun hati tidak tersambung kepada Allah, maka hal tersebut tidak ubahnya seperti meminta maaf kepada seseorang atas suatu kesalahan sambil tertawa, “Ha ha ha, maafkan aku, maafkan aku,” dan berlalu begitu saja. Itu namanya kurang ajar.

Meminta ampun kepada Allah itu artinya “dilakukan karena merasa bersalah.”

Jadi, seharusnya hal itu dilakukan dengan perasaan yang hancur dan penuh malu.

(Rabi’ah Al-Adawiyah)